Page 98 - Buku Ajar Pendidikan Kewarganegaraan
P. 98

mendahului  pemikiran  tentang  kewajiban?  Silakan  diskusikan
                  pendapat Anda dengan teman-teman Anda untuk mendapatkan sudut
                  pandang yang beragam.

                  5.3.2.  Sumber Sosiologis
                  Baru-baru  ini,  kita  telah  menjadi  saksi  berbagai  gejolak  dalam
                  masyarakat  yang  sangat  mengkhawatirkan.  Perubahan  drastis  dan
                  luar  biasa  dalam  kehidupan  sosial  dan  budaya  kita  telah
                  memunculkan  karakter  buruk  yang  sebelumnya  tidak  kita  kenal.
                  Bangsa  yang  dikenal  dengan  kesabaran,  keramahan,  sopan  santun,
                  dan kemampuan berkomunikasi tiba-tiba berubah menjadi pemarah,
                  suka  menghina,  penuh  dendam,  dan  terlibat  dalam  konflik
                  antarkampung  dan  antarsuku  dengan  tingkat  kebrutalan  yang
                  mengejutkan.  Bahkan  yang  lebih  tragis,  anak-anak  kita  yang  masih
                  sekolah pun telah terlibat dalam tindak kekerasan. Untuk memahami
                  situasi ini, kita perlu melihatnya dari sudut pandang sosiologis karena
                  ini berkaitan dengan struktur sosial dan sistem budaya yang telah ada
                  dalam sejarah kita. Beberapa gejala sosiologis mendasar telah muncul
                  dalam masyarakat kita setelah reformasi.

                  Pertama,  kita  menyaksikan  bahwa  setelah  Orde  Baru  runtuh,  kita
                  tidak  mendapatkan  demokrasi  seperti  yang  diharapkan,  melainkan

                  oligarki  di  mana  kekuasaan  terkonsentrasi  pada  sekelompok  elit,
                  sementara  sebagian  besar  rakyat  tetap  berada  jauh  dari  pusat
                  kekuasaan  yang  mencakup  wewenang,  uang,  hukum,  informasi,
                  pendidikan, dan lainnya.

                  Kedua,  gejolak  dalam  masyarakat  saat  ini  muncul  sebagai  hasil  dari
                  kebencian sosial budaya terselubung (socio-cultural animosity). Gejala
                  ini  mulai  muncul  dan  semakin  meluas  setelah  rezim  Orde  Baru
                  tumbang.  Konflik  di  Indonesia  tidak  lagi  terbatas  pada  perbedaan
                  pendukung Orde Baru dan Reformasi, tetapi juga menyebar ke konflik
                  antarsuku,  antaragama,  antarkelas  sosial,  kampung,  dan  lainnya.
                  Konflik ini seringkali bukan antara kelas atas dan kelas bawah, tetapi
                  antara sesama rakyat kecil. Konflik ini bukan hanya terbuka (manifest
                  conflict),  tetapi  juga  berbahaya  karena  tersembunyi  (latent  conflict)
                  antara  berbagai  kelompok.  Socio-cultural  animosity  adalah  bentuk
                  kebencian  sosial  budaya  yang  berasal  dari  perbedaan  dalam  budaya
                  dan nasib yang diwariskan oleh sejarah masa lalu, seringkali diwarnai


                   Pendidikan Kewarganegaraan                                     96
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103